Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 20 Desember 2012

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) {bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)} adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.

Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri ;-) seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes (Typhoid).

  • Tanda dan Gejala Penyakit Demam Berdarah Dengue

  • Masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari sejak seseorang terserang virus dengue, Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah sebagai berikut :

    1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 - 40 derajat Celsius).
    2. Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya jentik (puspura) perdarahan.
    3. Adanya bentuk perdarahan dikelopak mata bagian dalam (konjungtiva), Mimisan (Epitaksis), Buang air besar dengan kotoran (Peaces) berupa lendir bercampur darah (Melena), dan lain-lainnya.
    4. Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).
    5. Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
    6. Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3 - 7 terjadi penurunan trombosit dibawah 100.000 /mm3 (Trombositopeni), terjadi peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai normal (Hemokonsentrasi).
    7. Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah, penurunan nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang dan sakit kepala.
    8. Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
    9. Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal/sakit pada persendian.
    10.Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.

  • Proses Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue

  • Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, sehingga pada wilayah yang sudah diketahui adanya serangan penyakit DBD akan mungkin ada penderita lainnya bahkan akan dapat menyebabkan wabah yang luar biasa bagi penduduk disekitarnya.

  • Pengobatan Penyakit Demam Berdarah

  • Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan, mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).

    Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Selanjutnya adalah pemberian obat-obatan terhadap keluhan yang timbul, misalnya :
    - Paracetamol membantu menurunkan demam
    - Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare
    - Antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder

    Lakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok. Bahkan beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol. Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji bangkok, namun khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medik, akan tetapi jambu biji kenyataannya dapat mengembalikan cairan intravena dan peningkatan nilai trombosit darah.

  • Pencegahan Penyakit Demam Berdarah

  • Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi sampai sore, karena nyamuk aedes aktif di siang hari (bukan malam hari). Misalnya hindarkan berada di lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD nya. Beberapa cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD melalui metode pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah :

    1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat. perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.
    2. Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) pada tempat air kolam, dan bakteri (Bt.H-14).
    3. Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion).
    4. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

    Info perihal beberapa jenis penyakit kulit yang banyak terjadi di tubuh manusia, beberapa jenis penyakit kulit ini berlangsung dikarenakan beragam penyebab, dimulai dari dikarenakan terkena virus, lingkungan yang terkontaminasi serta ada banyak lagi.

    Adapun beberapa jenis penyakit kulit yaitu sebagai berikut.

    1. eksim ( dermatitis ).
    tanda-tanda utama yang dirasakan pasien eksim yaitu rasa gatal yang terlalu berlebih pada kulit. lantas dibarengi dengan kulit memerah, bersisik serta pecah-pecah, timbul gelembung-gelembung kecil memiliki kandungan air atau nanah. tangan, kaki, lipatan paha serta telinga yaitu sisi tubuh yang sangat kerap terkena eksim. eksim terbagi jadi dua, yakni eksim kering serta basah. pada eksim basah, akan merasa panas serta dingin yang terlalu berlebih pada kulit.

    eksim dikarenakan alergi pada rangsangan zat kimia spesifik layaknya yang ada didalam detergen, sabun, obat-obatan serta kosmetik, kepekaan pada type makanan spesifik layaknya udang, ikan laut, telur, daging ayam, alkohol, vetsin ( msg ), dan sebagainya. eksim juga bisa dikarenakan dikarenakan alergi serbuk sari tanaman, debu, rangangan iklim, apalagi masalah emosi.

    eksim seringkali menyerang pada orang-orang yang memiliki bakat alergi. penyakit ini kerap berlangsung berulang-ulang atau kambuh. oleh dikarenakan itu mesti di perhatikan untuk hindari perihal atau beberapa bahan yang bisa menyebabkan alergi ( alergen. ) namun, dengan penyembuhan yang pas, penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik hingga kurangi angka kekambuhan. pada sebagian masalah, eksim dapat menghilang bersamaan dengan bertambahnya umur pasien.

    2. bisul ( furunkel ).
    bisul adalah infeksi kulit berbentuk benjolan, terlihat memerah, yang dapat membesar. benjolan ini diisi nanah, serta merasa panas serta berdenyut. bisul dapat tumbuh di seluruh sisi tubuh. tetapi semakin banyak tumbuh di bagian tubuh yang lembab, layaknya, lipatan paha, sela bokong, lebih kurang leher serta ketiak, serta juga kepala.

    bisul dikarenakan dikarenakan ada infeksi bakteri stafilokokus aureus pada kulit melewati folikel rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat, lantas menyebabkan infeksi lokal. factor yang menambah risiko terkena bisul diantaranya kebersihan yang jelek, luka yang terinfeksi, pelemahan diabetes, kosmetika yang menyumbat pori, serta penggunaan bahan kimia.

    untuk hindari bisul, baiknya tetaplah melindungi kebersihan diri serta lingkungan, serta konsumsi gizi mesti betul-betul di perhatikan. dikarenakan gizi yang baik dapat memperkuat daya tahan tubuh.
    penyakit kulit

    3. campak ( rubella ).
    Campak yaitu penyakit akut menular yang dikarenakan oleh virus. umumnya menyerang anak-anak. tanda-tanda awal campak yaitu demam, pilek, bersin, badan merasa lesu, sakit kepala, nafsu makan alami penurunan mencolok serta radang mata. sesudah sekian hari dari tanda-tanda tersebut timbul ruam merah yang gatal, jadi tambah besar, tersebar ke bagian-bagian tubuh.
    4. kudis ( skabies ).
    kudis yaitu penyakit yang dikarenakan oleh parasit tungau yang gatal yakni sarcoptes scabiei var hominis. kulit terjangkit kudis semakin banyak berlangsung di tempat kumuh serta tidak melindungi kebersihan tubuh. tanda-tanda kudis yaitu ada rasa gatal yang demikian hebat saat malam hari, terlebih di sela-sela jari kaki, tangan, dibawah ketiak, alat kelamin, pinggang dan sebagainya. kudis amat mudah menular pada orang lain, dengan tidak segera ataupun tidak segera.

    dengan segera sudah pasti melewati sentuhan kulit terkena kudis dengan kulit orang lain. dengan tidak segera dapat menular melewati handuk atau baju yang digunakan dengan bergantian dengan pasien kudis. langkah amat gampang untuk hindari kudis sudah pasti dengan melindungi kebersihan lingkungan serta tubuh.

    5. kurap. kurap berlangsung dikarenakan jamur.
    umumnya sebagai gejalanya yaitu kulit jadi tidak tipis serta pada kulit timbul lingkaran-lingkaran yang makin jelas, bersisik, lembab serta berair serta merasa gatal. lantas pada lingkaran-lingkaran dapat timbul bercak-bercak putih. kurap timbul dikarenakan kurang melindungi kebersihan kulit. sisi tubuh yang umumnya diserang kurap yakni tengkuk, leher, serta kulit kepala.

    6. psoriasis.
    psoriasis terhitung penyakit kulit yang sukar didiagnosa. sisi tubuh yang biasa terkena eksim sama juga dengan sisi tubuh yang biasa terkena psoriasis, ditambah kulit kepala, punggung sisi bawah, telapak tangan, serta telapak kaki. stres, trauma, serta tingkat kalsium yang rendah bisa mengakibatkan psoriasis.

    psoriasis bukan hanya penyakit menular, namun berbentuk alami penurunan. tanda-tanda psoriasis yaitu munculnya bercak-bercak merah yang di atasnya ada sisik-sisik putih tidak tipis serta melekat berlapis-lapis. apabila digaruk, sisik-sisik tersebut dapat rontok. semula, luas permukaan kulit yang terkena cuma kecil, serta makin lama makin melebar.

    7. melanoma.
    melanoma adalah kanker kulit yang amat serius, hingga bisa mengakibatkan kematian bila tidak diobati. melanoma yaitu type kanker yang mengakibatkan pergantian tahi lalat pada kulit, amat beresiko bila nampak pada leher atau kulit kepala. di antara sinyal berlangsungnya melanoma yaitu tahi lalat yang membesar. tak hanya itu berlangsung pergantian warna pada tahi lalat dan tampak sinyal tanda peradangan pada kulit di lebih kurang tahi lalat.

    8. impetigo.
    impetigo yaitu penyakit kulit menular yang umumnya dikarenakan oleh bakteri. impetigo mengakibatkan kulit jadi gatal, melepuh diisi cairan serta kulit jadi merah. impetigo amat gampang berlangsung pada anak berumur dua hingga enam th.. bakteri umumnya masuk ke didalam kulit melewati gigitan serangga, luka, atau goresan. kebersihan amat mutlak untuk orang yang alami impetigo.

    9. jerawat
    menurut penelitian, lebih kurang 80 % dari semua manusia dulu mempunyai jerawat. jerawat sebagai di antara penyakit kulit yang dikarenakan oleh bakteri yang tumbuh di kulit serta menghubungkan pori-pori dengan kelenjar minyak dibawah kulit. jerawat bisa berkembang bila penyembuhan tidak dikerjakan di step awal kemunculannya. jerawat bukan sekedar tumbuh di muka, tetapi juga dapat tumbuh dibagian tubuh lain terlebih punggung.

    Penyakit Alzheimer

    Demensia merupakan masalah otak yang serius dan mempengaruhi perubahan memori seseorang, berpikir, serta keterampilan penalaran. Orang dengan demensia kerapkali alami kesusahan berpikir serta bicara dengan jelas, mengingat peristiwa terakhir, serta kesulitan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Berjalannya waktu, mereka jadi sukar untuk mengatur dan mengatasi aktivitas sehari-hari serta mengurus diri sendiri. masih banyak pemicu demensia, namun penyakit alzheimer yaitu pemicu sangat umum dari demensia pada orang tua.

    Beberapa ilmuwan berpikir bahwa s/d 4, 5 juta orang di amerika serikat menderita penyakit alzheimer. penyakit ini umumnya diawali sesudah umur 65 serta risikonya menjadi naik sesuai dengan bertambahnya umur. Namun perlu diperhatikan, tidak hanya oran tua yang terkena penyakit alzheimer, orang-orang muda juga dapat memperoleh penyakit alzheimer, meskipun tidak terlalu sering kasus yang ada.

     Lebih kurang 5% pria serta wanita umur 65-74 mempunyai penyakit alzheimer, serta nyaris 1/2 dari mereka umur 85 serta lebih tua barangkali mempunyai penyakit. Perihal ini mutlak untuk dicatat, bagaimanapun, bahwa penyakit alzheimer bukan hanya menjadi sisi normal dari penuaan.

    Penyakit alzheimer ini dinamai oleh Dr alois alzheimer, seorang dokter berkebangsaan Jerman. Pada th. 1906, Dr alzheimer meneliti pergantian didalam jaringan otak seorang wanita yang sudah meninggal dikarenakan penyakit mental yang tidak biasa. Dia mendapatkan gumpalan abnormal serta bundel serat kusut. rumpun yang saat ini dimaksud plak amiloid serta kusut yang dimaksud adalah kusut neurofibrillary. Sekarang ini, plak serta kusut di otak merupakan sinyal tanda penyakit alzheimer.

    Beberapa ilmuwan juga sudah berrhasil untuk menemukan perubahan pada otak yang lain pada orang dengan penyakit alzheimer. Ada hilangnya sel saraf serta jalur di tempat otak yang perlu untuk memori serta kekuatan mental yang lain. ada juga yang tingkat yang lebih rendah dari sebagian bahan kimia didalam otak yang membawa pesan-pesan bolak-balik yang kompleks pada beberapa sel saraf.

    Penyakit AlzheimerGejala umum penyakit alzheimer ditandai oleh atrofi umum (mati belakang) dari korteks serebral dengan akumulasi protein ke neuritik ( pikun ) plak di korteks serta kusut neurofibrillary di otak. tanda-tanda awal penyakit ini umumnya kehilangan memori. Masalah didalam tingkah laku serta penurunan kegiatan hidup sehari-hari jadi lebih nyata sebagai neurodegeneration berjalan. factor risiko terutama untuk penyakit ini umur lanjut, tetapi factor keturunan juga memainkan peran mutlak. sebagian kelas yang tidak sama obat yang ada untuk menyembuhkan beragam aspek masalah mental. perawatan ini tidak memperlambat perubahan penyakit. sesudah demensia sudah ditetapkan didalam, pasien umumnya memerlukan pertolongan dengan kehidupan sehari-hari atau barangkali jadi kandidat untuk sarana keperawatan trampil. walau latihan, diet sehat, serta aktivitas mental merangsang yang menolong pasien, penelitian sudah tunjukkan mereka tidak pencegahan.

    Penelitian mekanisme penyakit sudah dipandu untuk mendapatkan penyembuhan baru. Sebagian obat didalam penyelidikan meliputi anti-inflamasi, sel induk, serta vaksin. Penyakit alzheimer bisa mengganggu memori berpikir secara normal serta memblokir pesan-pesan pada beberapa sel saraf.

    Rabu, 19 Desember 2012

    Asuhan Keperawatan Gagal Ginjal Kronis


    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1  Latar Belakang
    Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting sangat penting dalam mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorbsi selektif air, elektrolit dan non-elektrolit, serta mengekskresi kelebihannya sebagai kemih.
    Fungsi primer ginjal adalah mempertahankan volume dan komposisi cairan ekstra sel dalam batas-batas normal. Komposisi dan volume cairan ekstrasel ini dikontrol oleh filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus.
    Ginjal dilalui oleh sekitar 1.200 ml darah per menit, suatu volume yang sama dengan 20 sampai 25 persen curah jantung (5.000 ml per menit). Lebih 90% darah yang masuk ke ginjal berada pada korteks, sedangkan sisanya dialirkan ke medulla.
    Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic non-communicable diseases) terutama penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal kronik, sudah menggantikan penyakit menular (communicable diseases) sebagai masalah kesehatan masyarakat utama.
    Gangguan fungsi ginjal dapat menggambarkan kondisi sistem vaskuler sehingga dapat membantu upaya pencegahan penyakit lebih dini sebelum pasien mengalami komplikasi yang lebih parah seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan penyakit pembuluh darah perifer.
    Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal yang memerlukan terapi pengganti yang membutuhkan biaya yang mahal. Penyakit ginjal kronik biasanya desertai berbagai komplikasi seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit saluran napas, penyakit saluran cerna, kelainan di tulang dan otot serta anemia.
    Selama ini, pengelolaan penyakit ginjal kronik lebih mengutamakan diagnosis dan pengobatan terhadap penyakit ginjal spesifik yang merupakan penyebab penyakit ginjal kronik serta dialisis atau transplantasi ginjal jika sudah terjadi gagal ginjal. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa komplikasi penyakit ginjal kronik, tidak bergantung pada etiologi, dapat dicegah atau dihambat jika dilakukan penanganan secara dini. Oleh karena itu, upaya yang harus dilaksanakan adalah diagnosis dini dan pencegahan yang efektif terhadap penyakit ginjal kronik, dan hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor risiko untuk penyakit ginjal kronik dapat dikendalikan.

    1.2  Tujuan Penulisan
    Adapun tujuan dari makalah ini kami bedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Untuk tujuan umum dari penyusunan makalah ini yaitu untuk memberikan pemahaman mengenai gangguan system perkemihan akibat gagal ginjal  kronis, dan untuk mengetahui bagaimana penerapan asuhan keperawatan terhadap klien dengan gangguan system perkemihan akibat gagal ginjal kronis. Sedangkan tujuan khususnya yaitu:
    1. Mengetahui mengenai pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostic dan penatalaksanaan medis yang terjadi pada penyakit gagal ginjal kronis.
    2. Mengetahui pengkajian pada pasien dengan gangguan sitem perkemihan akibat gagal ginjal kronis, mengetahui cara menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem perkemihan akibat gagal ginjal kronis, dapat mengetahui cara membuat rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan pada pasien dengan gagal ginjal kronis, dan dapat mengetahui intervensi  keperawatan dan mengevaluasi pasien dengan gangguan sistem perkemihan akibat gagal ginjal kronis.

    1.3  Manfaat Penulisan         
    Adapun manfaat penulisan dari makalah yang kami susun adalah sebagai berikut:
    1.      Manfaat pengetahuan
    Menambah keragaman ilmu pengetahuan bagi dunia keperawatan umumnya, khususnya adalah keperawatan medical bedah.
    2.      Manfaat pendidikan
    Memberikan referensi mengenai pembahasan yang menyeluruh meliputi berbagai hal yang berkaitan dengan gangguan pada system perkemihan yang dibahas.
    3.      Manfaat praktis
    a.       Bagi profesi
    Sebagai salah satu sumber literature dalam pengembangan bidang profesi keperawatan khususnya keperawatan medical bedah tentang penyakit gagal ginjal kronis.
    b.      Bagi peneliti
    Menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang pembahasan dan proses keperawatan yang dilakukan pada klien dengan gangguan system perkemihan.


    1.4  Metodologi Penulisan
    Adapun metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah dengan menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan mencari sumber dari berbagai literature baik itu buku maupun dari berbagai media elektronik.

    1.5  Sistematika Penulisan
    Adapun sistematika dari penulisan makalah ini terdiri dari:
    KATA PENGANTAR
    DAFTAR ISI
    BAB I                         PENDAHULUAN
    1.1  Latar belakang
    1.2  Tujuan penulisan
    1.3  Manfaat penulisan
    1.4  Metodologi penulisan
    1.5  Sistematika penulisan
    BAB II                        PEMBAHASAN
    BAB III                       KESIMPULAN
                        SARAN
    DAFTAR PUSTAKA








    BAB  II
    PEMBAHASAN

    2.1 Definisi
    Gagal ginjal kronik biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)
    Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)
    Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)
    Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)
                Gagal ginjal kronis adalah kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit ( toksik uremik ) di dalam darah. (Arif Muttaqin,2011; 166)
    Gagal ginjal kronik (GGK) adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif, dan cukup lanjut. Hal ini terjadi apabila laju filtrasi glomerulus kurang dari 50 ml/menit. (Arjatmo Tjokonegoro,2001;427)
    2.2 Etiologi
    Begitu banyak kondisi klinis yang bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis. Akan tetapi apapun sebabnya, respon yang terjadi adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif. Kondisi klinis yang memungkinkan dapat mengakibatkan GGK bisa disebabkan dari ginjal sendiri dan dari luar ginjal.
    1.      Penyakit dari ginjal
    a.       penyakit pada saringan (glomerulus) : glomerulonefritis
    b.      infeksi kuman : pyelonefritis, ureteritis
    c.       batu ginjal : nefrolitiasis
    d.      kista di ginjal : polcystis kidney
    e.       trauma langsung pada ginjal
    f.       keganasan pada ginjal
    g.      sumbatan : tumor, batu, penyempitan/striktur
    2.      Penyakit umum di luar ginjal
    a.       penyakit sistemik : diabetes mellitus, hipertensi, kolesterol tinggi
    b.      dyslipidemia
    c.       infeksi di badan : tbc paru, sifilis, malaria, hepatitis
    d.      preeklamsi
    e.       obat-obatan
    f.       kehilangan banyak cairan yang mendadak ( luka bakar )      

    2.3 Patofisiologi
    Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus.
    Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
    Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).
    Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi tiga stadium yaitu:
    ·         Stadium 1 (penurunan cadangan ginjal)
    Di tandai dengan kreatinin serum dan kadar Blood Ureum Nitrogen (BUN) normal dan penderita asimtomatik.
    ·         Stadium 2 (insufisiensi ginjal)
    Lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (Glomerulo filtration Rate besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini Blood Ureum Nitrogen mulai meningkat diatas normal, kadar kreatinin serum mulai meningklat melabihi kadar normal, azotemia ringan, timbul nokturia dan poliuri.
    ·         Stadium 3 (Gagal ginjal stadium akhir / uremia).
    Timbul apabila 90% massa nefron telah hancur, nilai glomerulo filtration rate 10% dari normal, kreatinin klirens 5-10 ml permenit atau kurang. Pada tahap ini kreatinin serum dan kadar blood ureum nitrgen meningkat sangat mencolok dan timbul oliguri. (Price, 1992: 813-814)
    2.4 Manifestasi Klinis
    Karena pada gagal ginjal kronis setiap sisem tubuh dipengaruhi oleh kondisi uremia, maka pasien akan memperhatikan sejumlah tanda dan gejala. Keparahan tanda dan gejala bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal, kondisi lain yang mendasari, dan usia pasien.
    Manifestasi kardiovaskuler, pada gagal ginjsl kronis mencakup hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivasi system rennin-angiotenin-aldosteron), gagal jantung kongestif, dan edema pulmoner (akibat cairan berlebihan), dan perikarditis (akibat iritasi pada lapisan pericardial oleh toksin uremik).
    Gejala dermatologi yang sering terjadi mencakup rasa gatal yang parah (pruritis). Butiran uremik, suatu penumpukan kristal urea di kulit, saat ini jarang terjadi akibat penanganan dini dan agresif terhadap penyakit ginjal tahap akhir. Gejala gastrointestinal juga sering terjadi dan mencakup anoreksia, mual, muantah dan cegukan. Perubahan neuromuskuler mencakup perubahan tingkat kesadaran, ketidak mampuan berkonsentrasi, kedutan otot dan kejang.
    Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):
    a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
    b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
    Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
    Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
    a.       Sistem kardiovaskuler
    •Hipertensi
    • Pitting edema
    • Edema periorbital
    • Pembesaran vena leher
    • Friction sub pericardial
    b.      Sistem Pulmoner
    • Krekel
    • Nafas dangkal
    • Kusmaull
    • Sputum kental dan liat
    c.       Sistem gastrointestinal
    • Anoreksia, mual dan muntah
    • Perdarahan saluran GI
    • Ulserasi dan pardarahan mulut
    • Nafas berbau ammonia
    d.      Sistem musculoskeletal
    • Kram otot
    • Kehilangan kekuatan otot
    • Fraktur tulang
    e.       Sistem Integumen
    • Warna kulit abu-abu mengkilat
    • Pruritis
    • Kulit kering bersisik
    • Ekimosis
    • Kuku tipis dan rapuh
    • Rambut tipis dan kasar
    f.       Sistem Reproduksi
    • Amenore
    • Atrofi testis
    Mekanisme yang pasti untuk setiap manifestasi tersebut belum dapat diidentifikasi. Namun demikian produk sampah uremik sangat dimungkinkan sebagai penyebabnya.

    2.5 Pemeriksaan Diagnostic
    1. Laboratorium :
    a. Laju Endap Darah : Meninggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan hipoalbuminemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah retikulosit yang rendah.
    b. Ureum dan kreatini : Meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin kurang lebih 20 : 1. Perbandingat meninggi akibat pendarahan saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi saluran kemih. Perbandingan ini berkurang  ketika ureum lebih kecil dari kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
    c. Hiponatremi : Umumnya karena kelebihan cairan. Hiperkalemia : biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunya dieresis
    d. Hipokalemia dan hiperfosfatemia: terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin D3 pada GGK.
    e. Phosphate alkaline : meninggi akibat gangguan metabolisme tulang, terutama isoenzim fosfatase lindi tulang.
    f. Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia : umunya disebabkan gangguan metabolisme dan diet rendah protein.
    g. Peninggian gula darah, akibat gangguan metabolism karbohidrat pada gagal ginjal ( resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan perifer ).
    h.Hipertrigliserida, akibat gangguan metabolisme lemak, disebabkan peninggian hormone insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.
    i. Asidosis metabolic dengan kompensasi respirasi menunjukan Ph yang menurun, BE yang menurun, HCO3 yang menurun, PCO2  yang menurun, semuanya disebabkan retensi asam-asam organic pada gagal ginjal.
    2. Radiology
                Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal ( adanya batu atau adanya suatu obstruksi ). Dehidrasi karena proses diagnostic akan memperburuk keadaan ginjal, oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa.
    3.      IIntra Vena Pielografi (IVP)
    Untuk menilai system pelviokalisisdan ureter.
    4.      USG
    Untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih dan prostat.
    5.      EKG
    Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia)



    2.6  Penatalaksanaan Medis
    Tujuan penatalaksanaan pada gagal ginjal kronik adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Semua factor yang berperan dalam terjadinya gagal ginjal kronik dicari dan diatasi.
    Adapun penatalaksanaannya yaitu : Penatalaksanaan konservatif, Meliputi pengaturan diet, cairan dan garam, memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa, mengendalikan hiperensi, penanggulangan asidosis, pengobatan neuropati, deteksi dan mengatasi komplikasi. Dan penatalaksanaan pengganti diantaranya dialysis (hemodialisis, peritoneal dialysis) transplantasi ginjal.
                Selain itu tujuan penatalaksanaan adalah menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dan mencegah komplikasi yaitu sebagai berikut :
    1.      Dialisis
    Dialysis dapat dlakukan untuk mencegah komplikasi gagal ginjal yang serius, seperti hiperkalemia, perikarditis, dan kejang. Dialysis memperbaiki abnormalitas biokimia, menyebabkan cairan, protein, dan natrium dapat dikonsumsi sevara bebas, menghilangkan kecenderungan pendarahan, dan membantu menyembuhkan luka.
    2.      Koreksi hiperkalemi
    Mengendalikan kalium darah sangat penting karena hiperkalemi dapat menimbulkan kematian mendadak. Hal yang pertama harus diingat adalah jangan menimbulkan hiperkalemia. Selain dengan pemeriksaan darah, hiperkalemia juga dapat didiagnosis dengan EEG dan EKG. Bila terjadi hiperkalemia, maka pengobatannya adalah dengan mengurangi intake kalium, pemberian Na Bikarbonat, dan pemberian infuse glukosa.
    3.      Koreksi anemia
    Pengendalian gagal ginjal pada keseluruhan akan dapat meninggikan Hb. Transfusi darah hanya dapat diberikan bila ada indikasi yang kuat, missal pada adanya insufisiensi koroner.
    4.      Koreksi asidosis.
    Pemberian asam melalui makanan dan obat-obatan harus dihindari. Natrium bikarbonat dapat diberikan peroral atau parenteral. Hemodialisis dan dialysis peritoneal dapat juga mengatasi asidosis
    5.      Pengendalian hipertensi
    Pemberian obat beta bloker, alpa metildopa, dan vasodilator dilakukan. Mengurangi intake garam dalam mengendalikan hipertensi harus hati-hati karena tidak semua gagal ginjal disertai retensi natrium.
    6.      Transplantasi ginjal
    Dengan pencangkokan ginjal yang sehat ke pasien GGK, maka seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang baru.














    BAB III
    ASUHAN KEPERAWATAN
    PADA KLIEN GAGAL GINJAL KRONIS (GGK)


    3.1  Pengumpulan data

    *            Anamnesa
    Anamnesa adalah mengetahui kondisi pasien dengan cara wawancara atau interview. Mengetahui kondisi pasien untuk saat ini dan masa yang lalu.
    Anamnesa mencakup identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, riwayat kesehatan lingkungan dan tempat tinggal.

    1.      Identitas
    Meliputi identitas klien yaitu : nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, suku/bangsa, golongan darah, tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, No. RM, diagnose medis, dan alamat.
    Identitas penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien, dan alamat.

    2.      Keluhan utama
    Kapan keluhan mulai berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan, obat apa yang digunakan.
    Keluhan utama yang didapat biasanya bervariasi, mulai dari urine output sedikit sampai tidak dapat BAK, gelisah sampai penurunan kesadaran, tidak selera makan (anoreksia), mual, muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, napas berbau ( ureum ), dan gatal pada kulit.

    3.      Riwayat Kesehatan Sekarang ( PQRST )
    Mengkaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa meliputi palliative, provocative, quality, quantity, region, radiaton, severity scala dan time. 
    Untuk kasus gagal ginjal kronis, kaji onet penurunan urine output, penurunan kesadaran, perubahan pola nafas, kelemahan fisik, adanya perubahan kulit, adanya nafas berbau ammonia, dan perubahan pemenuhan nutrisi. Kaji pula sudah kemana saja klien meminta pertolongan untuk mengatasi masalahnya dan mendapat pengobatn apa.
    4.      Riwayat Penyakit Dahulu
    Kaji adanya penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung, penggunaan obat-obat nefrotoksik, Benign prostatic hyperplasia, dan prostektomi. Kaji adanya riwayat penyakit batu saluran kemih, infeksi system prkemihan yang berulang, penyakit diabetes mellitus, dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya yang menjadi predisposisi penyebab. Penting untuk dikaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat kemudian dokumentasikan.

    5.      Riwayat Kesehatan Keluarga
    Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami penyakit yang sama. Bagaimana pola hidup yang biasa di terapkan dalam keluarga, ada atau tidaknya riwayat infeksi system perkemihan yang berulang dan riwayat alergi, penyakit hereditas dan penyakit menular pada keluarga.


    6.      Riwayat Psikososial
    Adanya perubahan fungsi struktur tubuh dan adanya tindakan dialysis akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan, gangguan konsep diri ( gambaran diri ) dan gangguan peran pada keluarga.

    7.      Lingkungan dan tempat tinggal
    Mengkaji lingkungan tempat tinggal klien, mengenai kebersihan lingkungan tempat tinggal, area lingkungan rumah, dll.

    *            Pemeriksaan Fisik
    1.      Keadaan umum dan TTV
    Ø  Keadaan umum : Klien lemah dan terlihat sakit berat
    Ø  Tingkat Kesadaran : Menurun sesuai dengan tingkat uremia dimana dapat mempengaruhi system saraf pusat
    Ø  TTV : Sering didapatkan adanya perubahan RR meningkat, tekanan darah terjadi perubahan dari hipertensi ringan sampai berat
    2.      Sistem Pernafasan
    Klien bernafas dengan bau urine (fetor uremik), respon uremia didapatkan adanya pernafasan kussmaul. Pola nafas cepat dan dalam merupakan upaya untuk melakukan pembuangan karbon dioksida yang menumpuk di sirkulasi



    3.      Sistem Hematologi
    Pada kondisi uremia berat tindakan auskultasi akan menemukan adanya friction rub yang merupakan tanda khas efusi pericardial. Didapatkan tanda dan gejala gagal jantung kongestif, TD meningkat, akral dingin, CRT > 3 detik, palpitasi, nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung, edema penurunan perfusiperifer sekunder dari penurunan curah jantungakibat hiperkalemi, dan gangguan kondisi elektrikal otot ventikel.
    Pada system hematologi sering didapatkan adanya anemia. Anemia sebagai akibat dari penurunan produksi eritropoetin, lesi gastrointestinal uremik, penurunan usia sel darah merah, dan kehilangan darah, biasanya dari saluran GI, kecenderungan mengalami perdarahan sekunder dari trombositopenia.
    4.      System Neuromuskular
    Didapatkan penurunan tingkat kesadaran, disfungsi serebral, seperti perubahan proses berfikir dan disorientasi. Klien sering didapatkan adanya kejang, adanya neuropati perifer, burning feet syndrome, restless leg syndrome, kram otot, dan nyeri otot.
    5.      Sistem Kardiovaskuler
    Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktivitas system rennin- angiostensin- aldosteron. Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis, efusi pericardial, penyakit jantung koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini, dan gagal jantung akibat penimbunan cairan dan hipertensi.
    6.      Sistem Endokrin
    Gangguan seksual : libido, fertilisasi dan ereksi menurun pada laki-laki akibat produksi testosterone dan spermatogenesis yang menurun. Sebab lain juga dihubungkan dengan metabolic tertentu. Pada wanita timbul gangguan menstruasi, gangguan ovulasi sampaiamenorea.
    Angguan metabolism glukosa, resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada gagal ginjal yang lanjut (klirens kreatinin < 15 ml/menit)  terjadi penuruna klirens metabolic insulin menyebabkan waktu paruh hormon aktif memanjang. Keadaan ini dapat menyebabkan kebutuhan obat penurunan glukosa darah akan berkurang. Gangguan metabolic lemak, dan gangguan metabolism vitamin D.
    7.      Sistem Perkemihan
    Penurunan urine output < 400 ml/ hari sampai anuri, terjadi penurunan libido berat
    8.      Sistem pencernaan
    Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia, dan diare sekunder dari bau mulut ammonia, peradangan mukosa mulut, dan ulkus saluran cerna sehingga sering di dapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.
    9.       Sistem Muskuloskeletal
    Di dapatkan adanya nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki (memburuk saat malam hari), kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi, pruritus, demam ( sepsis, dehidrasi ), petekie, area ekimosis pada kulit, fraktur tulang, deposit fosfat kalsium pada kulit jaringan lunak dan sendi, keterbatasan gerak sendi.
    Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum sekunder dari anemia dan penurunan perfusi perifer dari hipertensi.

    3.2  Diagnosa Keperawatan
    1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium
    2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa mulut.
    3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic, sirkulasi,sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum dalam kulit.
    4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur
    5. Gangguan konsep diri ( gambaran diri ) berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh, tindakan dialysis, koping maladaptif
    6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi , prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.   


    3.3  Perencanaan Keperawatan

    1.      Diagnosa Keperawatan : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium
    Tujuan : Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan
    Kriteria Hasil : Klien tidak sesak nafas, edema ekstermitas berkurang, piting edema (-), produksi urine > 600ml/hr

    Intervensi
    Rasional
    ·   Kaji status cairan :
    a.       Timbang berat badan harian
    b.      Keseimbangan masukan dan pengeluaran
    c.       Turgor kulit dan adanya edema
    d.      Distensi vena leher
    e.       Tekanan darah, denyut dan irama nadi

    ·   Batasi masukan cairan




    ·   Identifikasi sumber potensial cairan :
    a.       Medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan : oral dan intravena
    b.      Makanan

    ·   Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan


    ·         Bantu pasien dalam menghadapi ketidak nyamanan dalam pembatasan cairan

    ·      Tingkatkan dan dorong hygiene oral dengan sering

    Kolaborasi :
    ·         Berikan diuretic, contoh : furosemide, spironolakton, hidronolakton




    ·         Adenokortikosteroid, golongan prednisone




    ·         Lakukan dialisis
    ·      Pengkajian merupakan dasar dan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi







    ·      Pembatasan cairan akan menentukan berat tubuh ideal, keluaran urine, dan respon terhadap terapi

    ·      Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi






    ·      Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan

    ·         Kenyamanan pasien meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan diet.



    ·         Higiene oral mengurangi kekeringan membrane mukosa mulut


    ·         Diuretic bertujuan untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan di jaringan sehingga menurunkan resikoterjadinya edema paru
    ·         Adenokortikosteroid, golongan predison digunakan untuk menurunkan proteinuri

    ·         Dialysis akan menurunkan volume cairan yang berlebih.



    2.      Diagnosa Keperawatan : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa mulut.
    Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat
    Kriteria Hasil : Mempertahankan / meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu, bebas edema.

    Intervensi
    Rasional
    ·   Kaji status nutrisi :
    a.       Perubahan berat badan
    b.      Pengukuran antopometrik
    c.       Nilai laboratorium (elektrolit seru, BUN, kreatinin, protein,transferin, dan kadar besi)

    ·         Kaji pola diet nutrisi pasien :
    a.       Riwayat diet
    b.      Makanan kesukaan
    c.       Hitung kalori

    ·   Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi :
    a.       Anoreksia, mual, atau muntah
    b.      Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien
    c.       Depresi
    d.      Kuran memahami pembatasan diet
    e.       Stomatitis

    ·         Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet

    ·   Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi seperti : telur, produk susu, dan daging

    ·   Anjurkan camilan tinggi kalori, rendah protein, rendah natrium, diantara  waktu makan



    ·         Ciptakan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan


    ·         Timbang berat badan harian


    ·         Kaji bukti adanya masukan protein yang tidak adekuat
    a.       Pembentukan edema
    b.      Penyembuhan yang lambat
    c.       Penurunan kadar albumin serum

    ·      Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi






    ·      Pola diet dahulu dan sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu



    ·      Menyediakan informasi mengenai faktor lain yang dapat diubah atau dihilangkan untuk meningkatkan masukan diet









    ·         Mendorong peningkatan masukan diet


    ·      Protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan

    ·         Mengurangi makanan dan protein yang dibatasi dan menyediakan kalori untuk energy, membagi protein untuk pertumbuhan dan pertumbuhan jaringan

    ·         Faktor yang tidak menyenangkan yang berperan menimbulkan anoreksia dihilangkan.

    ·         Untuk memantau status cairan dan nutris




    ·         Masukan protein yang tidak adekuat dapat menyebabkan penurunan albumin dan protein lain, pembentukan edema, dan perlambatan penyembuhan


    3.      Diagnosa Keperawatan :. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic, sirkulasi,sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktivitas, akumulasi ureum dalam kulit.
    Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
    Kriteria Hasil :  Kulit tidak kering, hiperpigmentasi berkurang, memar pada kulit berkurang
    Intervensi
    Rasional
    ·   Kaji terhadap kekeringan kulit, pruritis, ekskoriasi, dan infeksi


    ·   Kaji terhadap adanya petekie dan purpura



    ·   Monitor lipatan kulit dan area yang edema

    ·   Gunting kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih




    Kolaborasi :
    ·         Berikan pengobatan antipruritis  sesuai pesanan.
    ·      Perubahan mungkin disebabkan oleh penurunan aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsium dan posfat pada lapisan kutaneus.
    ·         Perdarahan yang abnormal sering dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet akibat uremia

    ·      Area-area ini sangat mudah terjadinya injuri

    ·      Penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal, retensi natrium / air, dan penurunan urine output.




    ·      Mengurangi stimulus gatal pada kulit

    4.      Diagnosa Keperawatan : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialysis.
    Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi
    Kriteria Hasil :  Meningkatkan rasa sejahtera, dan dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih

    Intervensi
    Rasional
    ·   Kaji faktor yang menimbulkan keletihan :
    a.       Anemia
    b.      Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
    c.       Retensi produk sampah
    d.      Depresi

    ·   Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi, bantu jika keletihan terjadi

    ·   Anjurkan aktivitas alternative sambil istirahat




    ·   Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis
    ·      Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan






    ·      Meningkatkan aktivitas ringan/sedang dan memperbaiki harga diri


    ·      Mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat


    ·      Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialysis yang bagi banyak pasien sangat melelahkan.

    5.      Diagnosa Keperawatan :. Gangguan konsep diri ( gambaran diri ) berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh, tindakan dialysis, koping maladaptif
    Tujuan : Pasien mampu mengembangkan koping yang positif
    Kriteria Hasil : -Pasien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan,
    -          Mampu menyatakan atau mengomunikaasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi
    -          Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap komunikasi
    -          Mengakui dan menggabungkan perubahan kedalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif

    Intervensi
    Rasional
    ·   Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidak mampuan

    ·   Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada pasi








    ·   Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan



    ·   Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan

    ·         Anjurkan orang yang terdekat untuk mengijinkan pasien melakukan sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya

    ·         Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi
    ·      Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi

    ·      Mekanisme koping pada beberapa pasien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian diri, sedangkan yang lain mengalami koping maladaptive dan mempunyai kesulitan dalam membandingkan, mengenal, dan mengatur, kekurangan yang terdapat pada dirinya

    ·      Menunjukan penerimaan, dan membantu pasien untuk mengenal dan mulai menyesuaikan dengan perasaan tersebut

    ·      Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan

    ·         Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu erkembangan harga diri, serta memengaruhi proses rehabilitasi



    ·         Pasien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang

    6.      Diagnosa Keperawatan : Kurangnya pengetahuan tentang kondisi , prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.  
    Tujuan : Meningkatkan pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan
    Kriteria Hasil :  Meningkatkan pengetahuan pasien mengenai penyakit yang dideritanya.
    Intervensi
    Rasional
    ·   Kaji pemahaman mengenai penyebab gagal ginjal, konsekuensinya dan penanganannya :
    a.       Penyebab gagal ginjal pasien
    b.      Pengertian gagal ginjal
    c.       Pemahaman mengenai fungsi renal
    d.      Hubungan antara cairan, pembatasan diet dengan gagal ginjal
    e.       Rasional penanganan (hemodialisis, dialysis peritoneal, transplantasi)

    ·   Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan tingkat pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar

    ·   Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya

    ·   Sediakan informasi baik tertulis maupun secara oral dengan tepat tentang :
    a.       Fungsi dan kegagalan renal
    b.      Pembatasan cairan dan diet
    c.       Medikasi
    d.      Melaporkan masalah, tanda dan gejala
    e.       Jadwal tindak lanjut
    f.       Sumber di komunitas
    g.      Pilihan terapi
    ·      Merupakan instruksi dasar untuk penjelasan dan penyuluhan lebih lanjut













    ·      Pasien dapat belajar tentang gagal ginjal dan penanganan setelah mereka siap untuk memahami dan menerima diagnosis dan konsekuensinya

    ·      Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit





    ·         Pasien memiliki informasi yang dapat digunakan untuk klarifikasi selanjutnya di rumah












    BAB IV
    PENUTUP

    4.1  Kesimpulan
    Gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel, dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia(retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah)
    Penyebab
    • Infeksi misalnya pielonefritis kronik
    • Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis
    • Penyakit vaskuler hipertensif
    • Gangguan jaringan penambung
    • Gangguan kongenital dan herediter
    • Penyakit metabolic
    • Nefropati toksik
    • Nefropati obstruktif
    Tanda dan gejala
    • Gangguan pernafasan
    • Udema
    • Hipertensi
    • Anoreksia
    • Ulserasi usus
    • Stomatitis
    • Proteinuria
    • Hematuria
    • Letargi, apatis, penurunan konsentrasi
    • Anemi
    • Perdarahan
    • Turgor kulit jelek
    • Gatal-gatal pada kulit
    • Distrofi renal
    • Hiperkalemia
    • Asidosis metabolic
    Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti yang paling baik, akan tetapi mempunyai beberapa kendala seperti keterbatasan donor, biaya mahal, efek samping obat-obatan imunosupresi dan rejeksi kronik yang belum bisa diatasi. Keuntungan transplantasi ginjal ialah menghasilkan rehabilitas paling baik dibandingkan dialysis.

    4.2  Saran
    Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa calon  perawat, sebagai bekal untuk dapat memahami mengenai penyakit gagal ginjal kronis menjadi bekalkan dalam pengaplikasian dan praktik bila menghadapi kasus yang kami bahas ini.



    DAFTAR PUSTAKA


    Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC
    Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
    Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
    Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
    Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
    Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
    Supartondo. ( 2001 ). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta : Balai Penerbit FKUI

    kutipan dari Dian Riani Somantri